SAMUDRA

MARI MAJUKAN MASYARAKAT ENTASKAN DARI KEMISKINAN SEMAMPU KITA

Archive for Juli, 2008

CARA PEMILIHAN INDUK ABALONE HASIL BUDIDAYA DI KJA

Posted by mustika lautan pada Juli 29, 2008

Kuantitas Induk dalam jumlah yang memadai merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam suatu usaha pembenihan abalone (haliotis asinina). Hal ini dikarenakan sintasan larva abalone yang masih rendah, sehingga untuk memperoleh benih dalam jumlah yang banyak harus dilakukan pemijahan dengan frekuensi yang banyak dan berkesinambungan.

Balai Budidaya Laut Lombok tidak lagi tergantung dengan induk yang berasal dari alam, teknologi budidaya abalone di karamba jaring apung mampu menyuplai induk untuk dipijahkan dalam skala laboratorium.

Kualitas dari induk budidaya tidak kalah dengan induk yang berasal dari alam, dengan keberhasilan ini balai budidaya laut lombok mampu melakukan pemijahan secara kontinyu dan berkesinambungan

Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang dapat digunakan dalam melakukan pemilihan induk abalone hasil budidaya di karamba jaring apung.

  1. Ukuran Induk.

Abalone (Haliotis asinina) mulai dewasa pada ukuran (panjang cangkang) 3cm. Sehingga pastikan abalone yang akan kita gunakan sebagai induk memiliki panjang cangkang minimal 7cm. Semakin besar ukuran induk yang kita gunakan akan semakin baik karena fekunditasnya juga semakin tinggi.

  1. Membedakan jenis kelamin induk

Jenis kelamin induk harus diperhatikan karena dalam kegiatan pemijahan diperlukan jumlah induk betina yang lebih banyak (perbandingan 2:1). Pastikan induk dalam kondisi yang benar-benar matang gonad

Kelamin abalone dapat ditentukan dengan melihat warna gonadnya. Bagian gonad sendiri dapat dilihat dengan cara mengangkat cangkang bagian bawah.

Induk jantan : Warna gonad gading kecoklatan atau kuning kemerahan

Induk betina : Warna gonad, hijau kebiruan.

  1. Memilih Induk Yang Sehat.

Induk sehat adalah syarat mutlak dalam kegiatan pemeliharaan induk dan pemijahan abalone. Induk hasil tangkapan dikatakan sehat bila:

a) Tidak cacat/terluka

Dalam pengambilan abalone terkadang kita tidak memperhatikan letak dan posisi menempel sehingga sering kali mengakibatkan luka pada induk yang akan kita pijahkan untuk itu perlu adanya langkah- langkah sebelum dilakukan pemijahan yaitu:

Untuk itu beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

Perhatikan dan amati induk yang akan diambil satu-persatu;

Amati dan raba bagian cangkangnya karena terkadang ada retakan yang tidak terlihat;

Tarik cangkang secara perlahan untuk mengetahui kekuatan ototnya, Cangkang yang mudah direnggangkan dengan bagian tubuh menandakan adanya kerusakan otot;

Perhatikan secara seksama seluruh bagian tubuh abalone untuk mengetahui ada tidaknya luka akibat penangkapan. Luka-luka itu biasanya berupa goresan berwarna putih atau luka robek pada bagian yang menempel dengan cangkang;

Teliti juga bagian gonadnya, karena bagian tersebut sering luka/robek akibat terkait.

b) Dapat melekat dengan kuat dan aktif bergerak

Abalone yang baru diambil dari KJA biasanya dalam keadaan lemah/pingsan karena cara pengangkutan yang tidak benar. Tidak jarang abalone yang tidak cacat/luka tetapi tidak dapat diambil sebagai induk karena kondisinya yang terlalu lemah. Oleh karena itu dalam pemilihan induk diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

Sediakan wadah berisi air laut dan airator di tempat penampung abalone;

Masukan induk yang tidak luka/cacat (hasil seleksi pertama) kedalam wadah berisi air laut. Biarkan selama beberapa menit sampai kondisi induk benar-benar pulih;

Pilih induk yang dapat menempel dengan kuat dan bergerak secara aktif. Induk yang tidak bergerak atau tidak menempel secara kuat berarti kondisinya terlalu lemah.

mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit membantu untuk melakukan seleksi induk abalone khususnya untuk induk budidaya. amin

Iklan

Posted in Abalones | 2 Comments »

TEKNIK PENDEDERAN LOBSTER DENGAN SISTIM BATREY UNTUK MENGATASI KANIBALISME

Posted by mustika lautan pada Juli 26, 2008


Abstrak


Budidaya udang lobster merupakan segment usaha yang sangat diminati oleh para petani pembudidaya, disamping memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi juga masih terbuka lebar peluang untuk pemasaran komoditas ini.
Minimnya informasi teknologi khususnya pada kelompok petani tradisional tentang pendederan lobster dan besarnya prosentase mortalitas yang diakibatkan oleh kanibalisme pada pendederan Khususnya benih ukuran 1cm – 5 cm menjadikan para petani pembudidaya beralih untuk menangkap lobster yang berukuran konsumsi. Untuk mengatasi hal tersebut balai budidaya laut lombok berupaya untuk mencari solusi dalam mengatasi kanibalisme pada saat benih baru diangkat dari alam.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mencari solusi dalam mengatasi kanibalisme pada pendederan udang lobster ukuran 1-5cm, dan untuk mendapatkan benih lobster (5 cm up) siap tebar di keramba jaring apung dengan jumlah yang memadai. Benih yang didederkan adalah benih yang didapat atau berasal dari alam, sehingga diperlukan seleksi yang ekstra untuk memastikan bahwa benih yang akan di dederkan memenuhi standart kelayakan untuk dibudidayakan, tidak cacat dan terindikasi terserang suatu penyakit, Ukuran benih yang kita tebar panjang 1-2 cm dengan berat rata-rata 0,5 -1 gram. Sistim batrey merupakan sistim skat berantai dengan sirkulasi air. Parameter yang digunakan acuhan adalah Tingkat kelangsungn hidup yang mencapai 95% (SR) dan pertumbuhan, keuntungan dari sistim ini bisa menekan kanibalisme dan dapat dijadikan acuan untuk penelitihan lobster, menyangkut komposisi nutrisi dan lain-lain. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup losbter. Kematian sering terjadi karena penanganan pada saat penyiponan.

LEBIH LENGKAP COUNTAC US

Posted in Lobster | Leave a Comment »

CARA PEMBUATAN PAKAN ALAMI UNTUK PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

Posted by mustika lautan pada Juli 26, 2008

1. Penyiapan pakan alami

Kegiatan kultur plankton untuk memenuhi kebutuhan pembenihan mutiara meliputi beberapa tahapan, yaitu:

  1. seterilisasi alat dan bahan
  2. Teknik kultur fitoplankton

· Pengecekan sampel inokulan

· Pemupukan air media

· Larutan Vitamin

· Larutan Vitamin Mix

  1. Jenis fitoplankton yang dikultur

a. Sterilisasi Alat

Semua alat yang digunakan dalam proses kultur pakan alami mutlak disteril. Adapun tahapan sterilisasi sebagai berikut :

  1. Direndam dengan larutan HCl
  2. Dicuci dengan sabun cuci dan dibilas bersih dengan air tawar
  3. Disteril dengan uap panas atau dengan perebusan
  4. Disemprot dengan alkohol 11%

Setelah disteril, semua alat disimpan pada ruang steril dan siap digunakan.

b. Steril bahan

Bahan yang akan digunakan dan harus disteril terlebih dahulu adalah : pupuk dan air media. Adapun tahapan steril pupuk sebagai berikut :

  1. Menimbang pupuk sesuai dengan komposisi yang diinginkan
  2. Disteril menggunakan hot plate lengkap dengan stirer
  3. Sterilisasi dapat juga menggunakan uap panas (dikukus) selama ± 3 jam.

Steril air media dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1. Air laut yang akan digunakan untuk air media kultur plankton, disaring menggunakan sand filter dan catridge.

2. Direbus menggunakan panci steinles anti karat

3. Perebusan sampai mencapai suhu 800C

4. Dimasukkan dalam wadah botol galon atau toples volume 25 liter

5. Didinginkan dan disimpan dalam ruang steril

c. Teknik kultur fitoplankton

Adapun tahapan dalam kultur fitoplankton sebagai berikut :

  1. Pengecekan sampel inokulan

Inokulan yang akan digunakan sebagai bibit dicek menggunakan mikroskop dan haemocytometer untuk mengetahui kualitas dan kuantitasnya, umur inokulan harus di atas 4 hari.

  1. Pemupukan air media

Air laut steril yang akan digunakan sebagai air media tumbuh dipupuk sesuai dengan kebutuhannya dan diaerasi. Pupuk yang dipergunakan yaitu KW21 yang dijual bebas dipasaran dengan dosis 1ml/liter atau membuat komposisi sendiri, Persiapan pupuk yang dilakukan adalah dengan membuat larutan NaNO3, Na2HPO4, NaSiO3 (silikat), dan Clewat 32. Proses selengkapnya adalah sebagai berikut:

· Na NO3

Menimbang 20 gram Na NO3 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0 C selama 30 menit. Atau 100 Gram/1 Liter

· Na2 HPO4

Menimbang bahan sebagai berikut:

– Na2 HPO4 12H20 : 14 Gram

– Na HC03 : 12,6 Gram

– EDTA II Na / Titriplex : 18,1 Gram

Bahan-bahan tersebut kemudian dilarutkan ke dalam 1 Liter aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C , dalam jangka waktu 30 Menit

· Na2 Si03 (silikat)

Menimbang 1 Gram Na2 Si03 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C selama 30 menit. atau 5 Gram /1 Liter

· Clewat 32

Menimbang 20 Gram Clewat 32 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C selama 30 menit. atau 100 Gram/1 Liter

3.Larutan Vitamin

Membuat larutan vitamin B-12 dan vitamin H (Biotin), dengan cara sebagai berikut:

· Vitamin B– 12 sebanyak 0,1 Gram dilarutkan kedalam 500 ml aquadest atau 0,04 Gram 200 ml aquadest.

· 2 ml Vitamin B-12 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest atau 10 ml dalam 1 liter aquadest.

· Vitamin H (Biotin) sebanyak 0,1 Gram dilarutkan kedalam 500 ml aquadest atau 0,04 Gram 200 ml aquadest.

4.Larutan Vitamin Mix

Membuat larutan vitamin mix dengan cara : 0,2 Gram Thiamin (Vit. B-1) dilarutkan dalam 200 ml aquadest atau 0,5 gram/1 ltr aquades ditambahkan 5 ml Vitamin B-12 dan 5 ml Vitamin H (Biotin). untuk membuat larutan vitamin tidak perlu di autoclave

d. Jenis Fitoplankton Yang Dikultur

Þ Isochrysis galbana

Þ Chaetocheros sp.

Þ Pavlova lutheri

Þ Tetracelmis chuii

Þ Nannochloropsis oculata

  • Inokulan dimasukkan dalam air media sesuai dengan kepadatan yang dikehendaki, biasanya perbandingan air media dengan inokulan 3 : 1.
  • Diletakkan pada rak kultur yang dilengkapi dengan pencahayaan buatan dengan intensitas cahaya 3000-5000 lux
  • Setelah umur 4 hari, fitoplankton siap diberikan pada larva sebagai pakan.

Posted in Mutiara | Leave a Comment »

CARA MENGKULTUR BENTHIC DIATOM DARI SKALA LAB SAMPAI SKALA MASAL UNTUK SUPLAI PAKAN LARVA ABALONE

Posted by mustika lautan pada Juli 22, 2008

1.Persiapan Kultur
Sterilisasi Peralatan
Sterilisasi peralatan yang digunakan dalam kultur plankton ada beberapa cara, diantaranya dengan menggunakan autoclave, dengan menggunakan bahan kimia, dengan perebusan. Sterilisasi dengan perebusan dilakukan dengan tahapan sbb:
-Peralatan gelas/plastik dicuci bersih
-Rebus air tawar dalam panci sampai mendidih
-Masukkan peralatan gelas/plastik yang akan disteril
-Diamkan untuk beberapa saat (5-10menit)
-Angkat dan keringkan/simpan dalam rak

Sterilisasi Media Kultur
Media kultur plankton yang berupa air laut, kita steril dengan cara disaring dengan menggunakan sandfilter/cartridge. Kemudian masuk kedalam bak penampungan/tandon air laut. Sebelum digunakan untuk media kultur, air laut direbus/dimasak hingga mencapai suhu 800C atau sampai mendidih (1000C). Kemudian didinginkan dan disimpan/ditampung dalam panci/ember besar.

Penyiapan Media Kultur
-Air laut yang telah disteril (dimasak) dan ditampung dalam panci, dicampur dengan aquadest /air tawar (steril) hingga mencapai salinitas 28‰.
-Air dituang kedalam erleumeyer atau toples dengan perbandingan antara media dan inokulan 1:3 s/d 1:2
-Ditambahkan pupuk dan vitamin dengan takaran 1ml/liter.

Pembuatan Pupuk
Plankton atau pakan alami membutuhkan pupuk dalam pertumbuhannya. Pupuk yang dipergunakan merupakan campuran dari beberapa bahan kimia yang dibuat menjadi larutan. Formulasi pupuk cair yang digunakan dalam kultur Nitzschia sp, sebagai berikut :

NaNO3 = 100 gr/liter
NaHPO4H2O = 14 gr/liter
NaHCO3 = 12,6 gr/liter
Edta = 18,1 gr/liter
K2HPO4 = 14 gr/liter
Klewat = 100 gr/liter

Cara atau tahapan pembuatan pupuk cair adalah sebagai berikut :
-Siapkan semua bahan kimia, botol/wadah untuk larutan, aquadest, pengaduk, kompor dan panci berisi air.
-Timbang semua bahan kimia yang akan dilarutkan, sesuai dengan takaran.
-Masukkan bahan kimia kedalam botol/wadah yang telah diisi dengan aquadest dengan volume sesuai yang kita inginkan.
-Aduk sampai larutan tercampur merata atau menjadi larutan homogen.
-Panaskan didalam panci yang telah berisi air (ditim) sampai mendidih (1000), botol ditutup dengan aluminium foil.
-Angkat larutan yang telah panas/mendidih. Dinginkan, tutup botol dengan alumunium foil. Simpan di tempat yang steril.
Selain pupuk cair, dalam kultur plankton, juga dibutuhkan vitamin dan pupuk silikat. Formulasi pupuk silikat sebagai berikut :
Silikat Solution 5 gr/liter
Cara pembuatan :
-Siapkan botol/wadah untuk larutan silikat
-Isi dengan aquadest sesuai dengan volume yang kita inginkan
-Tambahkan silikat solution sesuai dengan takaran
-Aduk sampai larutan tercampur merata
-Panaskan didalam panci yang telah berisi air (ditim) sampai mendidih (1000C), botol ditutup dengan aluminium foil.
-Setelah mendidih, angkat larutan yang telah panas/mendidih. Dinginkan, tutup botol dengan alumunium foil. Simpan di tempat yang steril.

Sedangkan formulasi untuk pembuatan vitamin adalah sebagai berikut :

Biotin = 100 mg/liter
Thiamin = 700 mg/liter
Vit B12 = 500 mg/liter

Tahapan pembuatan larutan vitamin adalah sebagai berikut :
-Siapkan botol/wadah untuk pembuatan larutan vitamin
-Timbang vitamin yang akan dilarutkan
-Isi botol dengan aquadest dengan volume sesuai yang kita inginkan
-Tambahkan vitamin yang sudah ditimbang
-Aduk hingga tercampur rata atau menjadi larutan yang homogen
-Simpan larutan di tempat yang steril, tutup botol larutan dengan alumunium foil.

2.Teknik Kultur Pakan Alami Abalone
Kultur Bibit Murni dalam Media Agar
Kultur dalam media agar merupakan cara penyediaan bibit plankton yang akan dikultur. Cara pembuatan media agar :
-Bacto agar dilarutkan dalam air media kultur (salinitas 28‰) dengan takaran sebanyak 1,5 gram/100ml air.
-Larutan agar dipanaskan dalam air sampai mendidih dan terus diaduk hingga menjadi larutan yang homogen, atau menggunakan hotplate dan magnetic stirrer.
-Larutan yang telah homogen, didinginkan beberapa saat, kemudian ditambahkan pupuk dengan takaran 1ml/L.
-Diaduk hingga pupuk tercampur merata dalam larutan agar.
-Larutan agar dituang kedalam petridish, didinginkan hingga membeku (terbentuk lapisan agar). Ketebalan agar dalam petridish kira-kira 2-5 mm.
-Bibit murni plankton ditanam kedalam media agar dengan teknik inokulasi/penggoresan menggunakan jarum oose atau dengan cara menuangkan beberapa ml bibit murni ke media agar.
-Petridish ditutup rapat dengan menggunakan plakban, disimpan dalam rak kultur.
-Setelah kira-kira 1minggu akan tumbuh koloni plankton/alga tersebut.

Kultur Murni
Kultur murni merupakan rangkaian dari kegiatan pengadaan pakan alami/kultur plankton. Bibit kultur murni diperoleh dari hasil isolasi atau dari hasil kultur dalam media agar. Plankton hasil biakan/kultur dalam media agar, dipindahkan dalam tabung reaksi volume 10-15 ml, kemudian dikultur secara bertingkat ke dalam erleumeyer 100ml, 500ml, 1000ml, 2000ml dan volume 5-20liter. Langkah-langkah kultur murni adalah sebagai berikut :
-Kultur diawali dengan mempersiapkan air laut yang sudah steril dengan kadar garam 28‰
-Air dimasukkan kedalam botol-botol/toples kultur.
-Ditambahkan pupuk cair,vitamin,silikat sebanyak 1ml/liter.
-Media diaerasi dan dibiarkan sebentar, sampai pupuk tercampur merata.
-Bibit dimasukkan sebanyak ⅓ bagian atau ¼ bagian.
-Untuk mencegah kontaminasi dari udara, botol kultur ditutup dengan kapas/sterofoam/alumunium foil.
-Agar plankton tumbuh dengan baik, penempatan wadah kultur harus cukup mendapat cahaya.
-Setelah empat-lima hari masa pemeliharaan, plankton dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar.

Kultur massal diatom dapat dilakukan setelah Setelah empat-lima hari masa pemeliharaan skala laboratorium

Tahapan – tahapan untuk pembuatan/pengkulturan diatom adalah
1.Menyiapkan wadah, media kultur, instalasi air dan udara
Persiapan wadah, media kultur dan instalasi air dan udara merupakan langkah awal untuk melakukan kultur diatome
•Wadah yang digunakan untuk kultur bisa terbuat dari fiber maupun beton ukuran tergantung dari masing-masing pembudidaya.
•Media kultur sebelum di taburkan benih diatome terlebih dahulu di sterilisasi menggunakan kaporit 20g/l dan dibiarkan selama dua hari, setelah itu dilakukan penyaringan dengan menggunakan filter catrid ukuran 1,0 micron untuk menghilangkan endapan kaporit , untuk kultur skala lab strerilisasi wajib untuk dilakukan dengan pemanasan suhu diatas 80oC untuk memastikan tidak ada kontaminan dalam melakukan kultur diotome.
•Instalasi udara untuk mensuplai oksigen digunakan highblow 60 watt untuk mendapatkan kadar oksigen yang baik dan bersih
•Cahaya diatur sesuai dengan intensitas yang diperlukan, usahakan pencahayaan dilakukan secara kontinyu selama proses kultur berlangsung, proses pencahayaan dapat mempergunakan lampu neon ataupun yang lain, disesuaikan dengan keadaan masing-masing

2.Mengkultur benthic diatomae skala laboratorium
1.Inokulan murni ditebar sesuai dengan kepadatan yang dipersyaratankan
2.Media dipupuk dengan pupuk diatom sesuai dengan dosis yang ditentukan secara periodik
3.Kepadatan populasi dipantau secara intensif dan periodik
4.Suhu ruangan dikendalikan agar tidak mempengaruhi perubahan suhu air media
5.Kultur benthic diatom dilakukan secara bertingkat dimulai dari volume 1 liter hingga 20 liter
6.Kultur benthic diatom dipindahkan secara massal setelah mencapai volume 20 liter dengan kepadatan 5 jt sel/cc
3.Mengkultur benthic diatom skala massal
1.Subtrat (feeding plate) di rangkai dan ditempatkan dalam bak kultur skala massal
2.Inokulan hasil kultur skala lab ditebar kedalam wadah yang telah dipersiapkan 1 bulan sebelum pemijahan
3.Media dipupuk dengan pupuk diatom secara periodik sesuai dengan dosis yang dianjurkan
4.Kepadatan dipantau secara intensif dan periodik

Subtrat (feeding plate) yang telah ditumbuhi benthic diatom dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau bak kultur benthic diatom skala massal dapat langsung ditebari trochophora abalone

Posted in Abalones | 2 Comments »

PEMBENIHAN ABALONE (haliotis asinina)

Posted by mustika lautan pada Juli 20, 2008

PENDAHULUAN

Abalone (Haliotis sp.), merupakan komoditas yang belum banyak dibudidayakan. Selama ini untuk memenuhi permintaan pasar, hanya mengandalkan kegiatan penangkapan yang sangat beresiko terhadap kelestariannya, karena tidak memperhitungkan ukuran dan kuota penangkapan.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kelautan dan Perikanan, Loka Budidaya Laut Lombok mengemban amanah untuk menyebarluaskan hasil-hasil perekayasaan, termasuk perekayasaan pemijahan dan pembesaran Abalone. Dan sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat, tim pembenihan abalone Balai Budidaya Laut Lombok membuat prosedur kerja teknik pembenihan abalone.

PROSEDUR KERJA
A. Persiapan Laboratorium
Persiapan laboratorium dilakukan untuk mempersiapkan laboratorium /hatchery abalone sehingga memudahkan pada saat akan dilakukannya kegiatan. Persiapan yang telah dilakukan antara lain adalah:
1. Pengaturan ruangan; Beberapa ruangan yang ada di dalam laboratorium akan diatur menurut fungsinya masing-masing yaitu ruang gudang, ruang staf, ruang pemeliharaan induk dan larva, ruang pemijahan dan ruang kultur diatom.
2. Setting sistem aerasi; Perbaikan dan pemasangan instalasi airasi yang diharapkan akan mensuplai udara secara proporsional kedalam wadah-wadah yang digunakan untuk kegiatan manajemen induk, pemijahan dan pemeliharaan larva.
3. Persiapan wadah; Wadah-wadah yang dipersiapkan antara lain adalah: bak tandon air laut, bak beton vol 2 ton untuk pemeliharaan induk, akuarium volume 200 liter (2 buah) yang digunakan sebagai wadah kultur Isochrysis, dan Nitzchia sp. akuarium vol 100 untuk pemijahan dan pemeliharaan larva.

B. Pemeliharaan Induk abalone

1. Persiapan wadah
Sebelum melakukan pemeliharaan induk, terlebih dahulu mempersiapkan wadah yang berupa bak beton kapasitas dua ton (2x1x1) m3 antara lain: Volume air yang digunakan air air sebanyak 1 ton sehingga ketinggian air / media pemeliharaan induk adalah 50 cm, pemasangan shelter / tempat berlindung induk, pemasangan sistem airasi yang kuat dan merata, pemasangan sistem sirkulasi air 24 jam (minimal penggatian air 100% / hari).

2. Seleksi Calon Induk di Lokasi Penangkapan
Induk yang dipelihara berasal dari hasil tangkapan yang dilakukan oleh masyarakat. Untuk memilih induk hasil tangkapan ini, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
– Sehat; Gerakan lincah, menempel dengan keras, warna badan tidak pucat
– Tidak cacat/luka; Cangkang sempurna (tidak pecah), badan/daging utuh tidak tergores
– Ukuran cangkang; Minimal 3 cm., maksimal 5 cm.

3. Seleksi Induk di Laboratorium/Hatchery
Seleksi induk dilakukan untuk mempermudah kegiatan pemeliharaan induk dan pemijahan. Beberapa langkah yang dilakukan dalam kegiatan seleksi ini adalah:
a. Pemisahan berdasarkan jenis kelamin; dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Jantan, dengan warna gonad ekrem/gading
2) Betina dengan warna gonade biru/biru kehijauan
b. Pemisahan berdasarkan Tingkat Kematangan Gonad; dengan kriteria sebagai berikut:
1) Tingkat Persiapan : isi gonad 0 – 50%.
2) Tingkat Intensif : isi gonad 50% – 75%.
3) Tingkat Pemijahan: isi gonad ≥ 75%.

4. Pemberian aerasi dan shelter dalam bak pemeliharaan induk
Aerasi diberikan sampai dasar dan kuat, shelter untuk tempat berlindung induk terbuat dari pecahan/potongan pipa PVC dengan diameter > 2”.
5. Pergantian dan sirkulasi air
Pergantian air secara total dilakukan setiap hari dan dilanjutkan dengan sirkulasi air apabila suplai memungkinkan.
6. Pemberian pakan
Pemberian pakan berupa alga (Gracillaria sp. dan Hypnea sp.) dengan dosis 25% TBW / hari.
7. Penyiphonan
Penyiphonan dasar bak setiap 2 hari sekali untuk membuang kotoran dan sisa pakan yang busuk.
8. Pencucian Bak
Pencucian bak 1 kali seminggu untuk mencegah permukaan bak ditumbuhi teritip dan memutus siklus hidup hewan penggangu seperti kepiting.
9. Pengamatan dan sampling induk
Pengamatan induk dilakukan setiap hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi induk secara keseluruhan.
10. Seleksi Induk Matang Gonade
Seleksi induk matang gonad sekali satu bulan setiap 2 atau 3 hari sebelum bulan purnama. Induk yang matang gonad akan diambil dan dipelihara secara lebih intensif dalam wadah yang lain untuk persiapan pemijahan.

B. Kultur Diatomae
Kultur diatom adalah suatu kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menyediakan diatom dalam jumlah yang memadai untuk pakan larva/juvenil abalone. Kegiatan ini dilakukan didalam laboratorium / hatchery abalone dengan spesis yang sudah ditentukan yaitu Nitzchia sp. dan Isochrysis sp. Wadah yang digunakan adalah akuarium vol 100 –200 liter yang akan dilengkapi dengan rearing plate dan penerangan lampu neon 40 Watt.

C. Prosedur Pemijahan Abalone
Pemijahan akan dilakukan sebulan sekali pada saat bulan purnama dengan menggunakan wadah berupa akuarium volume 100 liter yang sudah dilengkapi dengan sistem airasi dan penutup (cover) dari waring. Langkah langkah dilakukan dalam kegiatan pemijahan adalah:
1. Penggunaan media pemijahan berupa air laut yang telah disaring;
2. Penggabungan induk matang gonad hasil seleksi yaitu induk dengan gonad 75% atau lebih yang terisi sperma/telur. Perbandingan berdasarkan jenis kelamin yang akan digunakan dalam satu wadah pemijahan adalah 1 ekor jantan untuk 3-4 ekor betina.
3. Penggelapan ruangan pada malam hari dan pengamatan proses pemijahan yang akan dilakukan setiap malam sejak penggabungan induk sampai dengan terjadinya pemijahan.
4. Pemindahan/panen telur dilakukan dengan cara penyiphonan untuk kemudian dipindahkan kedalam wadah penetasan sekaligus pemeliharaan larva.

D. Prosedur Penanganan Larva Abalone
Pemeliharaan larva dimulai dari kegiatan pengumpulan/pengambilan trochopora abalone. Trocophora diambil 5-6 jam setelah pemijahan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Airasi pada media pemijahan dimatikan untuk mengendapkan telur yang tidak terbuahi sehingga trocophora abalone akan mengapung dan mudah untuk dikoleksi. Pengambilan trocophora abalone dilakukan dengan mengalirkan bagian atas media pemijahan menggunakan selang plastik  ½ cm, media yang dipenuhi trocophora itu ditampung dalam bak penampungan yang dilengkapi net 100m.
b. Trocophora yang terkumpul dalam plankton net dipindahkan kedalam rearing tank yang dilengkapi dengan sistem sirkulasi dengan diberi airasi sampai pada stadia veliger.
c. Media larva rearing dilengkapi dengan rearing plate yang sudah ditumbuhi bentik mikro alga.
d. Airasi diberikan secara halus dan merata untuk memberi kesempatan menempel pada larva.
e. Pakan yang diberikan adalah Isochrysis sp dan Nitszchia sp, dan mulai diberikan pada saat larva mencapai umur D5 .
f. Pemeliharaan D1 – D10 kondisi air akan dibiarkan statis dan diberi airasi yang lemah pada saat larva mencapai umur;

PENUTUP

Keberhasilan dalam kegiatan pembenihan Abalone memerlukan keahlian khusus yang didapat dari pengalaman eksperimental. Oleh karena perlu untuk di susun metode kerja proses pembenihan Abalone, sehingga dapat mengembangkannya di kemudian hari.
Mudah-mudahan metode kerja proses pembenihan abalone ini dapat diserap oleh masyarakat luas dan diaplikasikan untuk peningkatan pendapatan masyarakat.

Posted in Abalones | Leave a Comment »

BUDIDAYA IKAN KERAPU BEBEK DI KARAMBA JARING APUNG

Posted by mustika lautan pada Juli 20, 2008

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Beberapa model dan metode pembudidayaan ikan Kerapu Bebek terus di gali dan diteliti untuk mendapatkan salah satu model pembudidayaan yang paling efisien. Beberapa model yang sudah diterapkan adalah metode keramba jaring apung dan tambak. Belakangan ini usaha budidaya ikan Kerapu Bebek dengan metode karamba jaring apung makin marak di NTB. Model ini dirasakan paling cocok untuk diterapkan di daerah NTB,mengingat kondisi spesifik alam yang mendukung. Metode ini masih memberikan harapan yang optimis melalui pemanfaatan kolom air permukaan suatu kawasan budidaya.
Hasil tangkapan dari nelayan jarang sekali bisa bertahan hidup. Ini lantaran alat tangkap yang digunakan kurang mendukung. Penggunaan bubu, bagan, atau pancing sebagai alat tangkap sering membuat ikan terluka sehingga melemahkan kondisi tubuhnya, mengingat hal tersebut potensi budidaya di KJA sangat menjanjikan (Anonim.1994).
Metode KJA merupakan metode akuakultur yang paling produktif. Beberapa keuntungan yang dimiliki metode KJA, yaitu tingginya padat penebaran, jumlah dan mutu air yang selalu memadai, tidak diperlukannya pengelolaan tanah, mudahnya pengendalian gangguan pemangsa, dan mudahnya pemanenan. Agar budidaya ikan di KJA berhasil maka pemasangan KJA tidak dilakukan disembarang tempat, harus dipilih lokasi yang memenuhi aspek teknis dan sosial ekonomis(Sunyoto.1994).
Lima persyaratan utama dalam pembudidayaan ikan di laut adalah ketersediaan benih, lingkungan yang memadai, stock pakan yang cukup, sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi pembudidayaan (Kriswantoro, Sunyoto. 1986).

II. BAHAN DAN PERALATAN, METODE

2.1 BAHAN DAN PERALATAN
Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini adalah :
– Karamba jaring apung : sebagai sarana / wadah pemeliharaan
– Benih ikan Kerapu Bebek
– Pakan ikan rucah : (rincian terlampir)
– Pakan buatan : (rincian terlampir)
– Feed additive ikan pembesaran : menambah asupan nutrisi oleh ikan Kerapu Bebek
Adapun peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah :
– Jaring pengganti : mennganti jaring yang sudah kotor
– Keranjang pakan : menampung pakan dalam freezer
– Keranjang sortir : memilah dan memisahkan ikan ssesuai ukuran
– Pemotong ikan rucah
– Timbangan duduk : untuk sampling
– Tali PE 4mm : untuk mengikat jaring di KJA
– Scoopnet besar : menangkap ikan
– Scopnet kecil : mengambil sisa kotoran / ikan mati di dasar jaring
– Bak kap. 30 liter : untuk perlakuan pengobatan dan perendaman ikan dengan multivitamin
– Ember
– Tali coban : menjahit / perawatan jaring yang robek
– Lambit
– Aerator batery : dipakai pada saat ikan diberi perlakuan dalam bak/ember
– Jas hujan

2.2 Metode
Kegiatan dibagi menjadi 2 kegiatan pokok, yakni ; Analisa Usaha dan pemasaran.

2.2.1 Persiapan
a. Persiapan Sarana Pemeliharaan
Kegiatan persiapan sarana pemeliharaan yang dilakukan adalah ;
– Setting waring hitam ukuran 1,2×1,2×1,5 m di KJA. Waring hitam dianggap baik karena disamping harganya murah juga memudahkan dalam kegiatan grading dan yang paling penting waring hitam terbuat dari bahan yang lembut sehingga cocok untuk ikan kecil, bahannya kuat dan dapat dipergunakan berulang kali dan tahan terhadap binatang pengganggu.
– Kebersihan di atas KJA, meliputi pemberantasan hama budidaya, seperti kepiting dan ular laut yang banyak bersembunyi di atas pelampung styrofoam. Permukkan pelampung juga harus dibersihkan dari teritip dan rumput laut liar.
– Pemasangan shelter. Shelter dipakai dari bahan pipa PVC diameter 3 “ panjang 25-30 cm. Untuk 1 waring bisa digantungkan 3-4 shelter. Shelter dapat berguna untuk mengurangi stress pada ikan sehingga dapat mengurangi gejala penyakit. Setelah terpasang shelter, pada begian atas waring perlu dipasang cover. Cover berguna untuk memberikan efek teduh bagi ikan peliharaan.

2.2.2 Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan dimulai dari kegiatan sebagai berikut ;

a. Penebaran Benih
Benih Kerapu Bebek bebek dengan padat tebar per waring adalah 100 – 200 ekor melihat ukuran dari karamba. Benih yang datang siap tebar langsung diadaptasikan di atas KJA. Dalam penebaran benih adaptasi dilakukan sebagai berikut :
1. Membuka box/styrofoam di tempat yang agak gelap agar ikan tidak terkejut.
2. Meletakkan kantong ikan yang belum terbuka terendam dalam air pada lokasi pemeliharaan selama 10 – 20 menit agar suhu di dalam kantong dan di luar menjadi sama.
3. Melepaskan ikan melalui bukaan kantong plastik dan ditampung di box semula.
4. Aliri box/styrofoam dengan air sebanyak 200 – 300 %.
5. Ikan siap ditebar ke dalam wadah pemeliharaan .

b. Pengelolaan Pakan
Pakan yang digunakan adalah dari jenis ikan rucah dan pakan buatan. Pakan dipotong kecil-kecil sesuai dengan bukaan mulut benih dengan jumlah potongan yang dikonversikan dengan jumlah ikan. Beberapa hal yang penting dalam penanganan pakan adalah :
1. Pakan ikan rucah harus dalam keadaan segar
2. Sisa potongan pakan harus segera dibekukan ke dalam freezer
3. Pakan yang beku harus dicairkan terlebih dahulu secara benar sebelum diberikan pada ikan.
4. Pellet tidak boleh disimpan lebih dari 3 bulan
5. Pellet yang sudah berubah bau dan warna sebaiknya tidak diberikan pada ikan

c. Pengamatan Pertumbuhan
Untuk mengetahui pertumbuhan ikan dilakukan pengukuran dan sampling setiap satu bulan sekali. Disamping itu, untuk pengamatan pertumbuhan ikan juga perlu melakukan monitoring kondisi ikan yang berguna untuk mencegah timbulnya penyakit dan penyakit dapat ditanggulangi secara dini sebelum parah. Untuk memastikan bahwa ikan sehat, pengawasan dan monitoring sangat penting dilakukan. Pengawasan dan monitoring yang dilakukan meliputi pengawasan pakan dan lingkungannya serta membuat rekorcd yang baik tentang ukuran ikan, model kematian, perlakuan yang diberikan.

2.3. Faktor kegagalan
Di dalam budidaya dengan sistem KJA kendala yang biasa dihadapi adalah :
– Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang biasa timbul disebabkan oleh jeleknya mutu bibit, selain itu adanya keadaan perairan yang kurang memadai seperti dekatnya dengan kawasan industri, jalur pelayaran kapal laut, dll. hal ini dapat diantisipasi dengan pemilihan bibit yang baik, dan pemilihan lokasi budidaya yang tepat.
– Bencana Alam
Adanya siklus badai yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun sekali, yang terjadi pada bulan Pebruari, hal ini dapat diantisipasi dengan penempatan karamba di daerah terlindung seperti teluk yang tidak terkena siklus badai tersebut, atau menarik karamba ketepian pada bulan-bulan badai (Pebruari).
– Keamanan
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pencurian terhadap kerapu di KJA, kita berlakukan jaga malam dengan memperketat dan menambah jumlah orang yang jaga malam pada saat ikan mulai menginjak usia konsumsi.
Faktor-faktor yang sering timbul diatas, selama ini mampu kita antisipasi sebelumnya, sehingga sejauh ini tidak sampai berpengaruh buruk terhadap kegiatan budidaya ikan kerapu di KJA.

III. PEMASARAN HASIL
A. Pemasaran Kerapu Bebek
Umumnya ikan kerapu bebek pemasarannya akan melalui pedagang, pengumpul, atau agen. Jalur perdagangan ini akan semakin panjang untuk skala ekspor karena penyertaan eksportir, importir pedagang besar, agen, ataupun pedagang pengecer. Setiap pelaku dalam jalur pemasaran ini akan mengambil keuntungan. Harga iakn kerapu bebek sangat relatif antara Rp. 200 – 300 ribu/kg, tergantung dari panjang pendeknya jalur pemasaran serta kualitas dari ikan kerapu tersebut.
Dalam pemasaran ikan kerapu bebek dapat dibedakan atas pasar dalam negeri atau lokal dan pasar luar negeri atau ekspor. Apapun bentuk pasar yang dipilih, pemasaran akan berhasil baik kalau kualitas dan kuantitasnya memungkinkan.

1. Pemasaran Dalam Negeri
Pemasaran ikan kerapu sebenarnya tidak mengalami masalah yang berarti, akan tetapi permasalahan itu muncul ketika lokasi budidaya itu jauh dari pedagang pengumpul dan produksinya relatif sedikit.
Untuk pasar lokal yang dekat dan jumlah produksinya banyak umumnya jalur pemasaranya adalah produsen—pengumpul—agen—pedagang pengecer—konsumen atau produsen–pengumpul—pedagang pengecer—konsumen. Jalur yang pendek tentu menyebabkan biaya transportasi dan biaya rugi laba akan lebih kecil sehingga harga di pengumpul dan konsumen juga rendah, hanya saja penyerapan pasar lokal untuk ikan kerapu konsumsi masih sangat rendah karena belum membudaya. Diperkirakan pasar lokal baru menyerap sekitar 5 % dari produksi yang ada.

2. Pemasaran Luar Negeri
Pasar yang lebih banyak jalurnya untuk tiba ke konsumen serta dalam wilayah yang lebih luas dan potensial adalah pasar luar negeri. Untuk mendapatkan pasar luar negeri ini, diperlukan proses yang panjang dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, terutama tentang perilaku dan permintaan pasarnya. Proses tersebut meliputi pengetahuan potensi pasar di tiap wilayah atau negara, jalur perdagangan dan jaringan yang ada disuatu negara saat itu, cara menarik atau mencari pembeli, kualitas, jenis, jumlah kebutuhannya serta pengemasan dan transportasinya.

B. Permintaan Dan Pasokan Kerapu
Permintaan akan ikan karang terutama kerapu sangat meningkat dalam dua dekade terakhir. Volume ikan hidup yang diperdagangkan di kawasan ini diperkirakan 53.000 ton, 30.000 ton diantaranya adalah kerapu. Sekitar 65% diantaranya diserap atau diperdagangkan di Hongkong dan Cina Daratan dengan nilai hampir setengah milyar dolar Amerika (Johannes and Riepen 1995; Lau and Parry-Jones 1999; Pawiro 2002) dalam (Achmad 2003). Sekitar dua pertiga kebutuhan tersebut dipenuhi dari tangkapan, sisanya dari budidaya.
Ikan karang hidup yang diimpor ke Hong Kong ternyata sebagian besar disalurkan ke Cina Daratan, yang merupakan pasar terbesar. Estimasi proporsi ikan karang hidup impor Hong Kong yang dipasaekan ke Cina bervariasi antara 10-20% (Lau and Parry-Jones, 1999) sampai dengan 55-60%(Chan,2000). Pasar berikutnya adalah Taiwan, namun demikian jumlahnya semakin menurun karena Taiwan sudah mulai menggiatkan budidaya untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Pemasok utama ikan karang hidup ke Hong Kong adalah Indonesia, Philippines, Australia, Maldives, Vietnam, Malaysia Thailand (Graham,2001). Indonesia juga dikenal sebagai pemasok utama ikan karang hidup yang berasal dari tangkapan alam yaitu sekitar 50%, bahkan di tingkat Asia Tenggara 60% pasokan ikan karang hidup dari tangkapan alam dihasilkan oleh Indonesia. Secara proporsional pasokan ikan ke Hong Kong dari berbagai negara adalah sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:

NEGARA

PASOKAN (%)

Indonesia

35

Malaysia

30

Australia

13

Thailand

11

Philippines

5

Vietnam

5

Maldives

1

Singapura

1

Kepulauan Salomon

<1

(Adji, 2001)

ANALISA USAHA
Di dalam dunia bisnis analisa usaha merupakan kegiatan yang sangat penting, dari analisa usaha tersebut dapat diketahui besarnya keuntungan usaha tersebut, analisa usaha ikan Kerapu Bebek sangatlah bervareatif, hal ini disebabkan oleh perhitungan biaya operasional yang dipengaruhi oleh besarnya unit usaha, jenis alat dan bahan yang digunakan, letak lokasi usaha, dan masih banyak lagi, oleh karena itu maka kami sebagai UPT pusat yang ada di daerah diharapkan sebagai tonggak kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang ada didaerah dalam rangka memasyarakatkan teknologi budidaya Kerapu Bebek dengan sistem KJA ini untuk, berusaha semaksimal mungkin dalam membantu dan menjadi percontohan para investor lokal (pengusaha kelas menengah ke atas ) dan PMA (Penanam Modal Asing) serta para petani dan nelayan yang tergabung dalam kelompok tani maupun koperasi, untuk mencoba membudidayakan ikan Kerapu Bebek dengan sistem jaring apung (KJA). Besarnya biaya yang tercantum dalam analisa usaha ini bisa berubah setiap waktu, sesuai dengan kondisi dan besar usaha serta pasar setempat. Keuntungan kerja sama ini bisa menekan biaya sarana dan prasarana serta operasional, seperti peralatan kerja, serta tenaga ahli yang profesional dan lain-lain. Contoh analisis usaha ini dibuat dengan perhitungan biaya pembuatan rakit dari kayu dengan pelampung drum plastik.

PERHITUNGAN ANALISA USAHA

A. Harga Pembuatan Satu Unit KJA

NO

NAMA BARANG

VOLUME

HARGA SATUAN (Rp)

JUMLAH (Rp)

1

Balok 8 x 12 x 4 m

28

BTG

45.000,-

1.260.000,-

2

Papan 3 x 25 x 4 cm

24

BTG

25.000,-

600.000,-

3

Pelampung plystyrene

15

BH

300.000,-

4.500.000,-

4

Tali PE 8 mm

20

KG

22.500,-

450.000,-

5

Tali jangkar 22 mm

80

KG

22.500,-

1.800,000,-

6

Jangkar 50 kg

4

BH

22.500,-

90.000,-

7

Baut d. 1 cm x 26 cm

40

BH

10.000,-

400.000,-

8

Paku papan

8

KG

12.500,-

100.000,-

9

Paku balok

8

KG

12.500,-

100.000,-

10

Rumah Jaga

20

BH

25.000,-

500.000,-

11

Jaring PE 1 ¼ “ D 18

4

UNIT

1.800.000,-

7.200.000,-

TOTAL (1a)

17.000.000,-

Jumlah total 4 rakit

68.000.000,-

B. Sarana Dan Prasarana

No

Nama Barang

Harga

1

Perahu motor

7.000.000,-

2

Bak penampungan

800.000,-

3

Aerator DC + ACCU

500.000,-

4

Tabung oksigen

500.000,-

5

Timbangan, serok dll

500.000,-

Jumlah Total ( 1b)

9.300.000,-

Jumlah (Ia + Ib)

77.300.000,-

II. Biaya Operasional

Biaya operasional terdiri atas biaya-biaya sebagai berikut

A. Biaya Tetap Per Tahun

No

Nama Barang

Harga

1

Perawatan 10% dari investasi

7.733.000,-

2

Penyusutan

6.000.000,-

3

Bunga modal 19% dari investasi

14.687.000,-

4

Pungutan ijin usaha: 2% dari investasi

15.460.000,-

Jumlah Total ( 2a)

43.877.000,-

B. Biaya Variabel Per Musim Tanam

No

Nama Barang

Harga

1

Biaya pengadaan benih, 4.200 ekor @ 10.000,-

42.000.000,-

2

Pembelian pakan rucah 3.780 x 2 x 5.000,-

37,800.000,-

3

Bahan bakar bensin 300 liter @ 1.800,-

540.000,-

4

Obat-obatan 1 paket

500.000,-

5

Upah Teknisi 400.000,- x 15 bulan

6.000.000,-

6

Upah Jaga malam 150.000,- x 15 bulan

2.250.000,-

Jumlah Total ( 2b)

89.090.000,-

Total biaya operasional (2a + 2b)

132.967.000,-

III. Penerimaan

No

Kegiatan

Jumlah

1

Produksi per musim 80% x 9.450 = 3.780 kg x 250.000,-

945.000.000,-

2

Jumlah biaya operasional

89.090.000,-

3

Laba operasional (3a-2a)

901.123.000,-

4

Laba bersih sebelum pajak (3a-2b)

855.910.000,-

5

Laba bersih per musim

945.000.000,-

IV. Analisis Biaya Manfaat

A. Arus Kas (dalam 1 tahun)

= Laba bersih + Penyusutan

= Rp. 945.000.000,- + Rp. 6.000.000,-

= Rp. 939.000.000,-

B. Rentabilitas Ekonomi

X 100%

Laba Operasional

(Investasi + Biaya operasional)

=

X 100%

901.123.000,-

(77.300.000,- + 89.090.000,-)

=

541,5 > 19% Sangat Layak Usaha

C. Rasio Perbandingan Antara Penerimaan B (R/C)

945.000.000,-

=

=

89.090.000,-

10,6 > 1 Sangat layak usaha

D. Jangka waktu Pengembalian

(Investasi + Biaya operasional)

=

Arus Kas

132.967.000,- + 89.090.000,-

=

)

939.000.000,-

=

0.23 tahun (2,76 bulan)

E. Titik Impas

Keterangan:

FC= biaya tetap

VC= biaya operasional

S = Penerimaan dari hasil penjualan

=

FC

1

VC

S

43.877.000,-

=

1

132.967.000,-

=

945.000.000,-

43.876.999,85


Dari analisis di atas , tampak bahwa usaha pembesaran Kerapu Bebek bebek dengan KJA sangat menguntungkan. Hanya dalam tempo satu tahun akan diperoleh pemasukan sebesar Rp. 945.000.000,- dengan asumsi 4 unit rakit KJA. Walaupun demikian investasi yang ditanam dan biaya produksi dalam usaha budidaya ini juga relatif besar yaitu Rp. 210.267.000,-,
Oleh karena itu usaha ini selain bisa dilakukan oleh para pengusaha menengah keatas dan usaha-usaha PMA (Penanaman Modal Asing), juga oleh nelayan dan petani ikan yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani dan koperasi.


DAFTAR PUSTAKA
– Adji, T.P. 2001. Beberapa aspek pemasaran ikan karang. Dalam Aliah, R.S., Herdis. Irawan, D. Dan Surachman, M. 9ed) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu. Jakarta 28-29 Agustus 2001 : 133-139.

– Anonim, 1994. Budidaya Ikan Kerapu dalam Majalah Primadona. Edisi Februari, Jakarta ; 14-19.

– Bentley, N.1999. Fishing for solutions : Can the live Trade in The wild Groupers and Wrasses from Southeast Asia be Managed? SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 6:25-27.

– Chan.P.2000a. the Inustry Perspective: Wholesale And Retail Marketing Aspect Of The Hongkong Live Reef Food Fish Trade. SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 7:3-7.

– Chan.P.S.W.2000b. Current Status Of The Live Reef Trade Based In Hongkong. SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 7:8-9.

– Graham,T.2001. A Collaborative Strategy To Addres The Live Reef Food Fish Trade , Asia Pasific Coastal Marine Program,Report#0101,The Nature Conservancy.Honolulu,HI.USA.62p.

– Johannes, R.E. and M.Riepen.1995. Environmental, economic, and social implications of the live reef fish trade in Asia and the western Pasific. Report to the Nature Conservancy and teh Fisheries Forum Agency, 83p.

– Lau.P.P.F. and R. Parry-Jonnes.1999. The Hongkong trade in live reef fish for food. TRAFFIC East Asia and World Wide Fund for Nature. Hongkong.65p.

– Li, L.W.H. 2002. Current Status and Trend of Finfish Market in Hongkong. Makalah pada NACA GC 13 and Aquabiusiness Seminar. Pulau Langkawi, 15-19 Jan 2002.7p.

– Kriswantoro, M. Dan Y.A. Sunyoto, 1986. Mengenal Ikan Laut. Penerbit BP. Karya Bani, Jakarta.

– Prawiro, S. 2002. Live reef fish trade in Asia – update. Infofish International 6 (Nov/Des) ; 33-37.

Posted in Kerapu | Leave a Comment »

KEKERANGAN: CARA PEMELIHARAAN LARVA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

Posted by mustika lautan pada Juli 20, 2008

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketersediaan benih berkualitas secara kontinue menjadi salah satu masalah yang cukup pelik dalam pengembangan budidaya tiram mutiara di Indonesia. Namun demikian, meningkatnya kebutuhan benih di lain sisi juga memunculkan tantangan tersendiri karena membuka peluang bagi masyarakat untuk terjun dalam usaha penyediaan benih. Mengingat dewasa ini teknologi pembenihan tidak lagi menjadi monopoli perusahaan besar.
Untuk memberikan gambar riil kepada masyarakat tim pembenihan mutiara yang tergabung dalam unit kegiatan pembenihan non finfish mencoba memberikan petunjuk teknis yang sederhana dan mudah dipahami agar kegiatan pembenihan yang dilakukan Balai Budidaya Laut Lombok memberikan dampak yang nyata terhadap masyarakat.
1.2 Tujuan
Tujuan dari petunjuk teknis ini adalah:
1. Untuk Menyediakan Panduan Teknis Cara Pemeliharaan Larva Tiram Mutiara (Pinctada Maxima)

2. Untuk membuat rintisan awal standar operasional prosedur pemeliharaan larva tiram mutiara

II. Pemeliharaan Larva
a. Pemijahan
Dimulai dari pengecekan induk,dipilih induk yang berkualitas dengan syarat :
1. Matang gonad penuh
2. Secara visual tampak sehat dan normal
3. Umur ≥3 tahun dan diameter ≥15 cm.
Induk dibersihkan dari kotoran dengan cara disikat, diaklimatisasi diloboratorium selama 1 hari. Induk kemudian siap untuk dipijahkan dengan teknik thermal shock, pemijahan diprioritaskan adanya persilangan antara induk alam dan induk hasil budidaya dan menghindari perangsangan menggunakan bahan-bahan kimia.

b. Penebaran telur
Dilakukan pengecekan sampel setelah 1 jam pemijahan, jika telur telah dibuahi, telur dipanen dengan cara disiphon dan ditampung menggunakan plankton net dengan mesh size 80, 30 dan 20 mikron. Telur yang sudah dibuahi (embrio) tersebut dibilas dengan air laut bersih kemudian ditebar pada bak pemeliharaan larva dengan kepadatan 5 butir/ml.
c. Pemberian pakan
Umumnya 20-24 jam setelah pembuahan, telur telah berkembang menjadi larva bentuk D (D-shape), larva mulaidiberikan pakan yang menjadi asupan nutrisi yang akan memacu perkembangannya. Pakan pertama yang diberikan adalah fitoplankton dari jenis Isochrysis galbana. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kepadatan larva dan terus ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan larva. Kepadatan pakan yang diberikan berkisar antara 2000-8000 sel/ml (seperti pada tabel 1).

Table 1. Pola kombinasi pemberian pakan alami.

No

Stadia

DoC

Kombinasi Pakan Alami (%)

Jumlah

Iso

Chae

Pav

Nitz

Tetra

Nanno

Total (sel/ ml)

1

Telur

D 0

2

Umbo – 1

D 1

75

25

2000

3

D 2

75

25

2500

4

D 3

75

25

3000

5

D 4

75

25

3000

6

Umbo – 2

D 5

75

25

3500

7

D 6

75

25

3500

8

D 7

50

25

25

4000

9

D 8

50

25

25

4000

10

Umbo – 3

D 9

50

20

20

10

4500

11

D 10

50

20

20

10

4500

12

D 11

50

20

20

10

5000

13

D 12

50

20

20

10

5000

14

Plantygrade

D 13

50

20

20

10

5500

15

D 14

50

20

15

10

5

5500

16

D 15

50

20

15

10

5

6000

17

Spat

D 16

50

20

15

10

5

6000

18

D 17

40

20

20

10

10

6500

19

D 18

40

20

20

10

10

6500

20

D 19

40

20

20

10

10

7000

21

D 20

40

20

20

10

10

7000

22

D 21

40

20

20

10

10

7500

23

D 22

40

20

20

10

10

8000

Iso : Isochrysis galbana
Chae : Chaetocheros sp.
Pav : Pavlova lutheri
Tetra : Tetracelmis chuii
Nanno : Nannochloropsis oculata

d. Ganti air media
Sisa pakan dan hasil metabolisme larva dapat menurunkan kualitas air media, untuk itu multak dilakukan pergantian air media guna menjaga agar media tumbuh larva tetap optimum. Pergantian air media dilakukan setiap 2 hari dengan cara menyiphon semua larva dan menyaringnya menggunakan plankton net dengan lebar mata saringan disesuaikan dengan ukuran larva. Setelah semua larva tersiphon, dilakukan pengecekan sampel untuk mengetahui kondisi larva. Larva kemudian ditebar kembali pada air media baru sesuai dengan ukuran dan kepadatan yang diinginkan.
e. Pemanenan
Setelah mencapai stadia plantygrade (17-19 hari), pada larva akan muncul eye spot (bintik hitam) yang menjadi indikator larva siap menempel. Pada stadia ini larva mengalami perubahan behavior dari planktonis menjadi sesil. Untuk merespon perubahan tersebut, perlu dipersiapkan substrat kolektor yang akan dijadikan tempat melekatnya bisus, substrat biasanya dari jenis polietilen atau paranet. 1 mingu setelah menempel, benih (spat) dapat dipanen, pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat substrat dari bak pemeliharaan dan siap untuk didederkan di laut.

III. PENUTUP
Petunjuk teknis yang disusun diharapkan dapat menjembatani kepentingan kegiatan pembenihan tiram mutiara di Balai Budidaya Laut yang dilakukan oleh unit kerja pembenihan non finfish dengan masyarakat pembudidaya tiram mutiara. Artinya bahwa Balai Budidaya Laut harus mampu memberikan pedoman/prosedur kerja tentang cara pemeliharaan larva mulai dari pemijahan sampai pemanenan produk kepada kalayak luas. Hal inilah yang melatar belakangi petunjuk teknis ini disusun semoga bisa dijadikan petunjuk bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi tentang cara pemeliharaan larva mutiara. Demi sempurnanya juknis ini kami sangat mengharapkan masukan-masukan yang korektifdan membangun.

Posted in Mutiara | Leave a Comment »

UPAYA MENURUNKAN KANIBALISME PADA PENDEDERAN UDANG LOBSTER DENGAN PEMBERIAN PAKAN PELLET DI BAK TERKONTROL

Posted by mustika lautan pada Juli 19, 2008

Abstrak

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mencari solusi dalam mengatasi kanibalisme pada pendederan udang lobster ukuran 1-7cm, dan untuk mendapatkan benih lobster (7 cm up) siap tebar di keramba jaring apung dengan jumlah yang memadai melalui pemberian pakan pelet. Benih yang didederkan adalah benih yang didapat atau berasal dari alam, sehingga diperlukan seleksi yang ekstra untuk memastikan bahwa benih yang akan di dederkan memenuhi standart kelayakan untuk dibudidayakan, tidak cacat dan terindikasi terserang suatu penyakit, Ukuran benih yang kita tebar panjang 1-2 cm dengan berat rata-rata 0,5 -1 gram. Pemberian pakan pelet berindikasi, sangat mempengaruhi sifat dari udang lobster salah satunya adalah sifat kanibal, hal tersebut dapat kita lihat dari tingkat kematian pada bak satu sebesar 21.1% sangat jauh dibandingkan dengan bak dua sebesar 68.7%. Tingkat kelangsungn hidup (SR) pada bak satu yang mencapai 78,9%, sangat jauh dibandingkan dengan bak dua yang hanya 31,3 %. Sebaiknya dicari teknologi dan dibuatkan formulasi pakan pelet udang lobster yang tahan lama didalam air untuk menghindari penggunaan telur sehingga dapat menekan biaya operasional pada pendederan udang lobster

selengkapnya countac us

Posted in Lobster | Leave a Comment »

PETUNJUK TEKNIS PEMBENIHAN ABALONE (haliotis asinina)

Posted by mustika lautan pada Juli 17, 2008

PENDAHULUAN

Abalone (Haliotis sp.), merupakan komoditas yang belum banyak dibudidayakan. Selama ini untuk memenuhi permintaan pasar, hanya mengandalkan kegiatan penangkapan yang sangat beresiko terhadap kelestariannya, karena tidak memperhitungkan ukuran dan kuota penangkapan.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kelautan dan Perikanan, Loka Budidaya Laut Lombok mengemban amanah untuk menyebarluaskan hasil-hasil perekayasaan, termasuk perekayasaan pemijahan dan pembesaran Abalone. Dan sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat, tim pembenihan abalone Balai Budidaya Laut Lombok membuat prosedur kerja teknik pembenihan abalone.

PROSEDUR KERJA
A. Persiapan Laboratorium
Persiapan laboratorium dilakukan untuk mempersiapkan laboratorium /hatchery abalone sehingga memudahkan pada saat akan dilakukannya kegiatan. Persiapan yang telah dilakukan antara lain adalah:
1. Pengaturan ruangan; Beberapa ruangan yang ada di dalam laboratorium akan diatur menurut fungsinya masing-masing yaitu ruang gudang, ruang staf, ruang pemeliharaan induk dan larva, ruang pemijahan dan ruang kultur diatom.
2. Setting sistem aerasi; Perbaikan dan pemasangan instalasi airasi yang diharapkan akan mensuplai udara secara proporsional kedalam wadah-wadah yang digunakan untuk kegiatan manajemen induk, pemijahan dan pemeliharaan larva.
3. Persiapan wadah; Wadah-wadah yang dipersiapkan antara lain adalah: bak tandon air laut, bak beton vol 2 ton untuk pemeliharaan induk, akuarium volume 200 liter (2 buah) yang digunakan sebagai wadah kultur Isochrysis, dan Nitzchia sp. akuarium vol 100 untuk pemijahan dan pemeliharaan larva.

B. Pemeliharaan Induk abalone

1. Persiapan wadah
Sebelum melakukan pemeliharaan induk, terlebih dahulu mempersiapkan wadah yang berupa bak beton kapasitas dua ton (2x1x1) m3 antara lain: Volume air yang digunakan air air sebanyak 1 ton sehingga ketinggian air / media pemeliharaan induk adalah 50 cm, pemasangan shelter / tempat berlindung induk, pemasangan sistem airasi yang kuat dan merata, pemasangan sistem sirkulasi air 24 jam (minimal penggatian air 100% / hari).

2. Seleksi Calon Induk di Lokasi Penangkapan
Induk yang dipelihara berasal dari hasil tangkapan yang dilakukan oleh masyarakat. Untuk memilih induk hasil tangkapan ini, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
– Sehat; Gerakan lincah, menempel dengan keras, warna badan tidak pucat
– Tidak cacat/luka; Cangkang sempurna (tidak pecah), badan/daging utuh tidak tergores
– Ukuran cangkang; Minimal 3 cm., maksimal 5 cm.

3. Seleksi Induk di Laboratorium/Hatchery
Seleksi induk dilakukan untuk mempermudah kegiatan pemeliharaan induk dan pemijahan. Beberapa langkah yang dilakukan dalam kegiatan seleksi ini adalah:
a. Pemisahan berdasarkan jenis kelamin; dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Jantan, dengan warna gonad ekrem/gading
2) Betina dengan warna gonade biru/biru kehijauan
b. Pemisahan berdasarkan Tingkat Kematangan Gonad; dengan kriteria sebagai berikut:
1) Tingkat Persiapan : isi gonad 0 – 50%.
2) Tingkat Intensif : isi gonad 50% – 75%.
3) Tingkat Pemijahan: isi gonad ≥ 75%.

4. Pemberian aerasi dan shelter dalam bak pemeliharaan induk
Aerasi diberikan sampai dasar dan kuat, shelter untuk tempat berlindung induk terbuat dari pecahan/potongan pipa PVC dengan diameter > 2”.
5. Pergantian dan sirkulasi air
Pergantian air secara total dilakukan setiap hari dan dilanjutkan dengan sirkulasi air apabila suplai memungkinkan.
6. Pemberian pakan
Pemberian pakan berupa alga (Gracillaria sp. dan Hypnea sp.) dengan dosis 25% TBW / hari.
7. Penyiphonan
Penyiphonan dasar bak setiap 2 hari sekali untuk membuang kotoran dan sisa pakan yang busuk.
8. Pencucian Bak
Pencucian bak 1 kali seminggu untuk mencegah permukaan bak ditumbuhi teritip dan memutus siklus hidup hewan penggangu seperti kepiting.
9. Pengamatan dan sampling induk
Pengamatan induk dilakukan setiap hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi induk secara keseluruhan.
10. Seleksi Induk Matang Gonade
Seleksi induk matang gonad sekali satu bulan setiap 2 atau 3 hari sebelum bulan purnama. Induk yang matang gonad akan diambil dan dipelihara secara lebih intensif dalam wadah yang lain untuk persiapan pemijahan.

B. Kultur Diatomae
Kultur diatom adalah suatu kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menyediakan diatom dalam jumlah yang memadai untuk pakan larva/juvenil abalone. Kegiatan ini dilakukan didalam laboratorium / hatchery abalone dengan spesis yang sudah ditentukan yaitu Nitzchia sp. dan Isochrysis sp. Wadah yang digunakan adalah akuarium vol 100 –200 liter yang akan dilengkapi dengan rearing plate dan penerangan lampu neon 40 Watt.

C. Prosedur Pemijahan Abalone
Pemijahan akan dilakukan sebulan sekali pada saat bulan purnama dengan menggunakan wadah berupa akuarium volume 100 liter yang sudah dilengkapi dengan sistem airasi dan penutup (cover) dari waring. Langkah langkah dilakukan dalam kegiatan pemijahan adalah:
1. Penggunaan media pemijahan berupa air laut yang telah disaring;
2. Penggabungan induk matang gonad hasil seleksi yaitu induk dengan gonad 75% atau lebih yang terisi sperma/telur. Perbandingan berdasarkan jenis kelamin yang akan digunakan dalam satu wadah pemijahan adalah 1 ekor jantan untuk 3-4 ekor betina.
3. Penggelapan ruangan pada malam hari dan pengamatan proses pemijahan yang akan dilakukan setiap malam sejak penggabungan induk sampai dengan terjadinya pemijahan.
4. Pemindahan/panen telur dilakukan dengan cara penyiphonan untuk kemudian dipindahkan kedalam wadah penetasan sekaligus pemeliharaan larva.

D. Prosedur Penanganan Larva Abalone
Pemeliharaan larva dimulai dari kegiatan pengumpulan/pengambilan trochopora abalone. Trocophora diambil 5-6 jam setelah pemijahan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Airasi pada media pemijahan dimatikan untuk mengendapkan telur yang tidak terbuahi sehingga trocophora abalone akan mengapung dan mudah untuk dikoleksi. Pengambilan trocophora abalone dilakukan dengan mengalirkan bagian atas media pemijahan menggunakan selang plastik  ½ cm, media yang dipenuhi trocophora itu ditampung dalam bak penampungan yang dilengkapi net 100m.
b. Trocophora yang terkumpul dalam plankton net dipindahkan kedalam rearing tank yang dilengkapi dengan sistem sirkulasi dengan diberi airasi sampai pada stadia veliger.
c. Media larva rearing dilengkapi dengan rearing plate yang sudah ditumbuhi bentik mikro alga.
d. Airasi diberikan secara halus dan merata untuk memberi kesempatan menempel pada larva.
e. Pakan yang diberikan adalah Isochrysis sp dan Nitszchia sp, dan mulai diberikan pada saat larva mencapai umur D5 .
f. Pemeliharaan D1 – D10 kondisi air akan dibiarkan statis dan diberi airasi yang lemah pada saat larva mencapai umur;

PENUTUP

Keberhasilan dalam kegiatan pembenihan Abalone memerlukan keahlian khusus yang didapat dari pengalaman eksperimental. Oleh karena perlu untuk di susun metode kerja proses pembenihan Abalone, sehingga dapat mengembangkannya di kemudian hari.
Mudah-mudahan metode kerja proses pembenihan abalone ini dapat diserap oleh masyarakat luas dan diaplikasikan untuk peningkatan pendapatan masyarakat.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

BUDIDAYA IKAN KERAPU BEBEK DI KARAMBA JARING APUNG

Posted by mustika lautan pada Juli 17, 2008

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beberapa model dan metode pembudidayaan ikan Kerapu Bebek terus di gali dan diteliti untuk mendapatkan salah satu model pembudidayaan yang paling efisien. Beberapa model yang sudah diterapkan adalah metode keramba jaring apung dan tambak. Belakangan ini usaha budidaya ikan Kerapu Bebek dengan metode karamba jaring apung makin marak di NTB. Model ini dirasakan paling cocok untuk diterapkan di daerah NTB,mengingat kondisi spesifik alam yang mendukung. Metode ini masih memberikan harapan yang optimis melalui pemanfaatan kolom air permukaan suatu kawasan budidaya.

Hasil tangkapan dari nelayan jarang sekali bisa bertahan hidup. Ini lantaran alat tangkap yang digunakan kurang mendukung. Penggunaan bubu, bagan, atau pancing sebagai alat tangkap sering membuat ikan terluka sehingga melemahkan kondisi tubuhnya, mengingat hal tersebut potensi budidaya di KJA sangat menjanjikan (Anonim.1994).

Metode KJA merupakan metode akuakultur yang paling produktif. Beberapa keuntungan yang dimiliki metode KJA, yaitu tingginya padat penebaran, jumlah dan mutu air yang selalu memadai, tidak diperlukannya pengelolaan tanah, mudahnya pengendalian gangguan pemangsa, dan mudahnya pemanenan. Agar budidaya ikan di KJA berhasil maka pemasangan KJA tidak dilakukan disembarang tempat, harus dipilih lokasi yang memenuhi aspek teknis dan sosial ekonomis(Sunyoto.1994).

Lima persyaratan utama dalam pembudidayaan ikan di laut adalah ketersediaan benih, lingkungan yang memadai, stock pakan yang cukup, sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi pembudidayaan (Kriswantoro, Sunyoto. 1986).

II. BAHAN DAN PERALATAN, METODE

2.1 BAHAN DAN PERALATAN

Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini adalah :

Karamba jaring apung : sebagai sarana / wadah pemeliharaan

Benih ikan Kerapu Bebek

Pakan ikan rucah : (rincian terlampir)

Pakan buatan : (rincian terlampir)

Feed additive ikan pembesaran : menambah asupan nutrisi oleh ikan Kerapu Bebek

Adapun peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah :

Jaring pengganti : mennganti jaring yang sudah kotor

Keranjang pakan : menampung pakan dalam freezer

Keranjang sortir : memilah dan memisahkan ikan ssesuai ukuran

Pemotong ikan rucah

Timbangan duduk : untuk sampling

Tali PE 4mm : untuk mengikat jaring di KJA

Scoopnet besar : menangkap ikan

Scopnet kecil : mengambil sisa kotoran / ikan mati di dasar jaring

Bak kap. 30 liter : untuk perlakuan pengobatan dan perendaman ikan dengan multivitamin

Ember

Tali coban : menjahit / perawatan jaring yang robek

Lambit

Aerator batery : dipakai pada saat ikan diberi perlakuan dalam bak/ember

Jas hujan

2.2 Metode

Kegiatan dibagi menjadi 2 kegiatan pokok, yakni ; Analisa Usaha dan pemasaran.

2.2.1 Persiapan

a. Persiapan Sarana Pemeliharaan

Kegiatan persiapan sarana pemeliharaan yang dilakukan adalah ;

Setting waring hitam ukuran 1,2×1,2×1,5 m di KJA. Waring hitam dianggap baik karena disamping harganya murah juga memudahkan dalam kegiatan grading dan yang paling penting waring hitam terbuat dari bahan yang lembut sehingga cocok untuk ikan kecil, bahannya kuat dan dapat dipergunakan berulang kali dan tahan terhadap binatang pengganggu.

Kebersihan di atas KJA, meliputi pemberantasan hama budidaya, seperti kepiting dan ular laut yang banyak bersembunyi di atas pelampung styrofoam. Permukkan pelampung juga harus dibersihkan dari teritip dan rumput laut liar.

Pemasangan shelter. Shelter dipakai dari bahan pipa PVC diameter 3 “ panjang 25-30 cm. Untuk 1 waring bisa digantungkan 3-4 shelter. Shelter dapat berguna untuk mengurangi stress pada ikan sehingga dapat mengurangi gejala penyakit. Setelah terpasang shelter, pada begian atas waring perlu dipasang cover. Cover berguna untuk memberikan efek teduh bagi ikan peliharaan.

2.2.2 Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan dimulai dari kegiatan sebagai berikut ;

a. Penebaran Benih

Benih Kerapu Bebek bebek dengan padat tebar per waring adalah 100 – 200 ekor melihat ukuran dari karamba. Benih yang datang siap tebar langsung diadaptasikan di atas KJA. Dalam penebaran benih adaptasi dilakukan sebagai berikut :

1. Membuka box/styrofoam di tempat yang agak gelap agar ikan tidak terkejut.

2. Meletakkan kantong ikan yang belum terbuka terendam dalam air pada lokasi pemeliharaan selama 10 – 20 menit agar suhu di dalam kantong dan di luar menjadi sama.

3. Melepaskan ikan melalui bukaan kantong plastik dan ditampung di box semula.

4. Aliri box/styrofoam dengan air sebanyak 200 – 300 %.

5. Ikan siap ditebar ke dalam wadah pemeliharaan .

b. Pengelolaan Pakan

Pakan yang digunakan adalah dari jenis ikan rucah dan pakan buatan. Pakan dipotong kecil-kecil sesuai dengan bukaan mulut benih dengan jumlah potongan yang dikonversikan dengan jumlah ikan. Beberapa hal yang penting dalam penanganan pakan adalah :

1. Pakan ikan rucah harus dalam keadaan segar

2. Sisa potongan pakan harus segera dibekukan ke dalam freezer

3. Pakan yang beku harus dicairkan terlebih dahulu secara benar sebelum diberikan pada ikan.

4. Pellet tidak boleh disimpan lebih dari 3 bulan

5. Pellet yang sudah berubah bau dan warna sebaiknya tidak diberikan pada ikan

c. Pengamatan Pertumbuhan

Untuk mengetahui pertumbuhan ikan dilakukan pengukuran dan sampling setiap satu bulan sekali. Disamping itu, untuk pengamatan pertumbuhan ikan juga perlu melakukan monitoring kondisi ikan yang berguna untuk mencegah timbulnya penyakit dan penyakit dapat ditanggulangi secara dini sebelum parah. Untuk memastikan bahwa ikan sehat, pengawasan dan monitoring sangat penting dilakukan. Pengawasan dan monitoring yang dilakukan meliputi pengawasan pakan dan lingkungannya serta membuat rekorcd yang baik tentang ukuran ikan, model kematian, perlakuan yang diberikan.

2.3. Faktor kegagalan

Di dalam budidaya dengan sistem KJA kendala yang biasa dihadapi adalah :

Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit yang biasa timbul disebabkan oleh jeleknya mutu bibit, selain itu adanya keadaan perairan yang kurang memadai seperti dekatnya dengan kawasan industri, jalur pelayaran kapal laut, dll. hal ini dapat diantisipasi dengan pemilihan bibit yang baik, dan pemilihan lokasi budidaya yang tepat.

Bencana Alam

Adanya siklus badai yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun sekali, yang terjadi pada bulan Pebruari, hal ini dapat diantisipasi dengan penempatan karamba di daerah terlindung seperti teluk yang tidak terkena siklus badai tersebut, atau menarik karamba ketepian pada bulan-bulan badai (Pebruari).

Keamanan

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pencurian terhadap kerapu di KJA, kita berlakukan jaga malam dengan memperketat dan menambah jumlah orang yang jaga malam pada saat ikan mulai menginjak usia konsumsi.

Faktor-faktor yang sering timbul diatas, selama ini mampu kita antisipasi sebelumnya, sehingga sejauh ini tidak sampai berpengaruh buruk terhadap kegiatan budidaya ikan kerapu di KJA.

III. PEMASARAN HASIL

A. Pemasaran Kerapu Bebek

Umumnya ikan kerapu bebek pemasarannya akan melalui pedagang, pengumpul, atau agen. Jalur perdagangan ini akan semakin panjang untuk skala ekspor karena penyertaan eksportir, importir pedagang besar, agen, ataupun pedagang pengecer. Setiap pelaku dalam jalur pemasaran ini akan mengambil keuntungan. Harga iakn kerapu bebek sangat relatif antara Rp. 200 – 300 ribu/kg, tergantung dari panjang pendeknya jalur pemasaran serta kualitas dari ikan kerapu tersebut.

Dalam pemasaran ikan kerapu bebek dapat dibedakan atas pasar dalam negeri atau lokal dan pasar luar negeri atau ekspor. Apapun bentuk pasar yang dipilih, pemasaran akan berhasil baik kalau kualitas dan kuantitasnya memungkinkan.

1. Pemasaran Dalam Negeri

Pemasaran ikan kerapu sebenarnya tidak mengalami masalah yang berarti, akan tetapi permasalahan itu muncul ketika lokasi budidaya itu jauh dari pedagang pengumpul dan produksinya relatif sedikit.

Untuk pasar lokal yang dekat dan jumlah produksinya banyak umumnya jalur pemasaranya adalah produsen—pengumpul—agen—pedagang pengecer—konsumen atau produsen–pengumpul—pedagang pengecer—konsumen. Jalur yang pendek tentu menyebabkan biaya transportasi dan biaya rugi laba akan lebih kecil sehingga harga di pengumpul dan konsumen juga rendah, hanya saja penyerapan pasar lokal untuk ikan kerapu konsumsi masih sangat rendah karena belum membudaya. Diperkirakan pasar lokal baru menyerap sekitar 5 % dari produksi yang ada.

2. Pemasaran Luar Negeri

Pasar yang lebih banyak jalurnya untuk tiba ke konsumen serta dalam wilayah yang lebih luas dan potensial adalah pasar luar negeri. Untuk mendapatkan pasar luar negeri ini, diperlukan proses yang panjang dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, terutama tentang perilaku dan permintaan pasarnya. Proses tersebut meliputi pengetahuan potensi pasar di tiap wilayah atau negara, jalur perdagangan dan jaringan yang ada disuatu negara saat itu, cara menarik atau mencari pembeli, kualitas, jenis, jumlah kebutuhannya serta pengemasan dan transportasinya.

B. Permintaan Dan Pasokan Kerapu

Permintaan akan ikan karang terutama kerapu sangat meningkat dalam dua dekade terakhir. Volume ikan hidup yang diperdagangkan di kawasan ini diperkirakan 53.000 ton, 30.000 ton diantaranya adalah kerapu. Sekitar 65% diantaranya diserap atau diperdagangkan di Hongkong dan Cina Daratan dengan nilai hampir setengah milyar dolar Amerika (Johannes and Riepen 1995; Lau and Parry-Jones 1999; Pawiro 2002) dalam (Achmad 2003). Sekitar dua pertiga kebutuhan tersebut dipenuhi dari tangkapan, sisanya dari budidaya.

Ikan karang hidup yang diimpor ke Hong Kong ternyata sebagian besar disalurkan ke Cina Daratan, yang merupakan pasar terbesar. Estimasi proporsi ikan karang hidup impor Hong Kong yang dipasaekan ke Cina bervariasi antara 10-20% (Lau and Parry-Jones, 1999) sampai dengan 55-60%(Chan,2000). Pasar berikutnya adalah Taiwan, namun demikian jumlahnya semakin menurun karena Taiwan sudah mulai menggiatkan budidaya untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Pemasok utama ikan karang hidup ke Hong Kong adalah Indonesia, Philippines, Australia, Maldives, Vietnam, Malaysia Thailand (Graham,2001). Indonesia juga dikenal sebagai pemasok utama ikan karang hidup yang berasal dari tangkapan alam yaitu sekitar 50%, bahkan di tingkat Asia Tenggara 60% pasokan ikan karang hidup dari tangkapan alam dihasilkan oleh Indonesia. Secara proporsional pasokan ikan ke Hong Kong dari berbagai negara adalah sebagaimana disajikan dalam tabel berikut:

Negara pemasok ikan (segmen menengah) ke Hong Kong

NEGARA

PASOKAN (%)

Indonesia

35

Malaysia

30

Australia

13

Thailand

11

Philippines

5

Vietnam

5

Maldives

1

Singapura

1

Kepulauan Salomon

<1

(Adji, 2001)

ANALISA USAHA

Di dalam dunia bisnis analisa usaha merupakan kegiatan yang sangat penting, dari analisa usaha tersebut dapat diketahui besarnya keuntungan usaha tersebut, analisa usaha ikan Kerapu Bebek sangatlah bervareatif, hal ini disebabkan oleh perhitungan biaya operasional yang dipengaruhi oleh besarnya unit usaha, jenis alat dan bahan yang digunakan, letak lokasi usaha, dan masih banyak lagi, oleh karena itu maka kami sebagai UPT pusat yang ada di daerah diharapkan sebagai tonggak kerjasama dengan instansi-instansi terkait yang ada didaerah dalam rangka memasyarakatkan teknologi budidaya Kerapu Bebek dengan sistem KJA ini untuk, berusaha semaksimal mungkin dalam membantu dan menjadi percontohan para investor lokal (pengusaha kelas menengah ke atas ) dan PMA (Penanam Modal Asing) serta para petani dan nelayan yang tergabung dalam kelompok tani maupun koperasi, untuk mencoba membudidayakan ikan Kerapu Bebek dengan sistem jaring apung (KJA).

Besarnya biaya yang tercantum dalam analisa usaha ini bisa berubah setiap waktu, sesuai dengan kondisi dan besar usaha serta pasar setempat. Keuntungan kerja sama ini bisa menekan biaya sarana dan prasarana serta operasional, seperti peralatan kerja, serta tenaga ahli yang profesional dan lain-lain. Contoh analisis usaha ini dibuat dengan perhitungan biaya pembuatan rakit dari kayu dengan pelampung drum plastik.

PERHITUNGAN ANALISA USAHA

A. Harga Pembuatan Satu Unit KJA

NO

NAMA BARANG

VOLUME

HARGA SATUAN (Rp)

JUMLAH (Rp)

1

Balok 8 x 12 x 4 m

28

BTG

45.000,-

1.260.000,-

2

Papan 3 x 25 x 4 cm

24

BTG

25.000,-

600.000,-

3

Pelampung plystyrene

15

BH

300.000,-

4.500.000,-

4

Tali PE 8 mm

20

KG

22.500,-

450.000,-

5

Tali jangkar 22 mm

80

KG

22.500,-

1.800,000,-

6

Jangkar 50 kg

4

BH

22.500,-

90.000,-

7

Baut d. 1 cm x 26 cm

40

BH

10.000,-

400.000,-

8

Paku papan

8

KG

12.500,-

100.000,-

9

Paku balok

8

KG

12.500,-

100.000,-

10

Rumah Jaga

20

BH

25.000,-

500.000,-

11

Jaring PE 1 ¼ “ D 18

4

UNIT

1.800.000,-

7.200.000,-

TOTAL (1a)

17.000.000,-

Jumlah total 4 rakit

68.000.000,-

B. Sarana Dan Prasarana

No

Nama Barang

Harga

1

Perahu motor

7.000.000,-

2

Bak penampungan

800.000,-

3

Aerator DC + ACCU

500.000,-

4

Tabung oksigen

500.000,-

5

Timbangan, serok dll

500.000,-

Jumlah Total ( 1b)

9.300.000,-

Jumlah (Ia + Ib)

77.300.000,-

II. Biaya Operasional

Biaya operasional terdiri atas biaya-biaya sebagai berikut

A. Biaya Tetap Per Tahun

No

Nama Barang

Harga

1

Perawatan 10% dari investasi

7.733.000,-

2

Penyusutan

6.000.000,-

3

Bunga modal 19% dari investasi

14.687.000,-

4

Pungutan ijin usaha: 2% dari investasi

15.460.000,-

Jumlah Total ( 2a)

43.877.000,-

B. Biaya Variabel Per Musim Tanam

No

Nama Barang

Harga

1

Biaya pengadaan benih, 4.200 ekor @ 10.000,-

42.000.000,-

2

Pembelian pakan rucah 3.780 x 2 x 5.000,-

37,800.000,-

3

Bahan bakar bensin 300 liter @ 1.800,-

540.000,-

4

Obat-obatan 1 paket

500.000,-

5

Upah Teknisi 400.000,- x 15 bulan

6.000.000,-

6

Upah Jaga malam 150.000,- x 15 bulan

2.250.000,-

Jumlah Total ( 2b)

89.090.000,-

Total biaya operasional (2a + 2b)

132.967.000,-

III. Penerimaan

No

Kegiatan

Jumlah

1

Produksi per musim 80% x 9.450 = 3.780 kg x 250.000,-

945.000.000,-

2

Jumlah biaya operasional

89.090.000,-

3

Laba operasional (3a-2a)

901.123.000,-

4

Laba bersih sebelum pajak (3a-2b)

855.910.000,-

5

Laba bersih per musim

945.000.000,-

IV. Analisis Biaya Manfaat

A. Arus Kas (dalam 1 tahun)

= Laba bersih + Penyusutan

= Rp. 945.000.000,- + Rp. 6.000.000,-

= Rp. 939.000.000,-

B. Rentabilitas Ekonomi

=

X 100%

Laba Operasional

(Investasi + Biaya operasional)

=

X 100%

901.123.000,-

(77.300.000,- + 89.090.000,-)

=

541,5 > 19% Sangat Layak Usaha

C. Rasio Perbandingan Antara Penerimaan B (R/C)

945.000.000,-

=

=

89.090.000,-

10,6 > 1 Sangat layak usaha

D. Jangka waktu Pengembalian

(Investasi + Biaya operasional)

=

Arus Kas

132.967.000,- + 89.090.000,-

=

)

939.000.000,-

=

0.23 tahun (2,76 bulan)

E. Titik Impas

Keterangan:

FC= biaya tetap

VC= biaya operasional

S = Penerimaan dari hasil penjualan

=

FC

1

VC

S

43.877.000,-

=

1

132.967.000,-

=

945.000.000,-

43.876.999,85

Dari analisis di atas , tampak bahwa usaha pembesaran Kerapu Bebek bebek dengan KJA sangat menguntungkan. Hanya dalam tempo satu tahun akan diperoleh pemasukan sebesar Rp. 945.000.000,- dengan asumsi 4 unit rakit KJA. Walaupun demikian investasi yang ditanam dan biaya produksi dalam usaha budidaya ini juga relatif besar yaitu Rp. 210.267.000,-,

Oleh karena itu usaha ini selain bisa dilakukan oleh para pengusaha menengah keatas dan usaha-usaha PMA (Penanaman Modal Asing), juga oleh nelayan dan petani ikan yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani dan koperasi.

DAFTAR PUSTAKA

Adji, T.P. 2001. Beberapa aspek pemasaran ikan karang. Dalam Aliah, R.S., Herdis. Irawan, D. Dan Surachman, M. 9ed) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu. Jakarta 28-29 Agustus 2001 : 133-139.

Anonim, 1994. Budidaya Ikan Kerapu dalam Majalah Primadona. Edisi Februari, Jakarta ; 14-19.

Bentley, N.1999. Fishing for solutions : Can the live Trade in The wild Groupers and Wrasses from Southeast Asia be Managed? SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 6:25-27.

Chan.P.2000a. the Inustry Perspective: Wholesale And Retail Marketing Aspect Of The Hongkong Live Reef Food Fish Trade. SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 7:3-7.

Chan.P.S.W.2000b. Current Status Of The Live Reef Trade Based In Hongkong. SPC Live Reef Fish Information. Bulletin, 7:8-9.

Graham,T.2001. A Collaborative Strategy To Addres The Live Reef Food Fish Trade , Asia Pasific Coastal Marine Program,Report#0101,The Nature Conservancy.Honolulu,HI.USA.62p.

Johannes, R.E. and M.Riepen.1995. Environmental, economic, and social implications of the live reef fish trade in Asia and the western Pasific. Report to the Nature Conservancy and teh Fisheries Forum Agency, 83p.

Lau.P.P.F. and R. Parry-Jonnes.1999. The Hongkong trade in live reef fish for food. TRAFFIC East Asia and World Wide Fund for Nature. Hongkong.65p.

Li, L.W.H. 2002. Current Status and Trend of Finfish Market in Hongkong. Makalah pada NACA GC 13 and Aquabiusiness Seminar. Pulau Langkawi, 15-19 Jan 2002.7p.

Kriswantoro, M. Dan Y.A. Sunyoto, 1986. Mengenal Ikan Laut. Penerbit BP. Karya Bani, Jakarta.

Prawiro, S. 2002. Live reef fish trade in Asia – update. Infofish International 6 (Nov/Des) ; 33-37.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »